Prabu Siliwangi, Diantara Fakta dan Mitos

Masyarakat Sunda sangat lekat dengan simbol 'maung' atau harimau. Beberapa kebudayaan Sunda dikorelasikan dengan maung baik secara verbal maupun non verbal. Simbol maung dalam masyarakat Sunda ini sangat erat kaitannya dengan menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Padjadjaran.

Pada saat itu kerajaan Padjadjaran diserbu pasukan Islam Banten dan Cirebon. Dua kerajaan yang dipimpin oleh anak Prabu Siliwangi yang sudah memeluk Islam. Tetapi karena Prabu Siliwangi tidak ingin ada pertumpahan darah dengan anak dan cucu, akhirnya dia memilih kabur ke Hutan Sancang di kawasan Garut.

Sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, dia meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai 'wangsit siliwangi'. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda adalah:

'Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung'. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah, apabila aku sudah tidak bersama kalian, lihat saja kelakuan harimau. Kata-kata itu termasuk kategori bahasa Sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa (undak unduk basa) yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan. Lantas dalam Wangsit Siliwang itu ditulis juga:

“Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

Artinya: "Dari mulai hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri."

"Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tetapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, tetapi menelusurinya harus memakai dasar. Namun sayangnya yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”

Bagi sebagian besar masyarakat Sunda, wangsit Siliwangi tersebut menjadi semacam keyakinan Prabu Siliwangi bermetamorfosa atau berubah menjadi maung atau harimau. 

Prabu Siliwangi berubah jadi harimau setelah melakukan tapadrawa atau bertapa seumur hidup di Hutan Sancang. Prabu Siliwangi ini disebut-sebut hidup pada era sekitar awal 1400 masehi. Prabu Siliwangi ini memimpin Padjadjaran sekitar 39 tahun.

Makna kiasan, tetapi ada juga masyarakat Sunda yang percaya bahwa 'Wangsit Siliwangi' itu bermakna kiasan. Prabu Siliwangi bukan berubah jadi harimau tetapi mengisyaratkan tingkahnya harus seperti harimau yakni pemberani, tegas tetapi tetap sayang kepada keluarga.

Hal itu merujuk ketika kerajaan Padjadjaran diserang oleh keturunan Prabu Siliwangi sendiri. Karena tidak ingin ada pertumpahan darah maka Prabu Siliwangi lebih memilih menghilang (nga-hyang) di Hutan Sancang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Kisah Prabu Siliwangi ini jadi semacam kearifan lokal (local wisdom). Menurut masyarakat di sekitar Hutan Sancang, bila ada pengunjung hutan yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka akan berhadapan dengan harimau putih yang tak lain adalah jelmaan Prabu Siliwangi.

Hal tersebut memang agak tidak logis bila dicerna secara nalar dan ilmu pengetahuan. Tetapi di sisi lain bisa dipandang bahwa masyarakat Leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan ekosistem kehutanan.


Untuk keseimbangan ekosistem itu diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos harimau putih jelmaan Siliwangi lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.

Comments

Post a Comment