MENJAGA KELESTARIAN BUMI
ubes nur islam
Abstraksi:
Bumi kita saat ini, oleh banyak pakar ahli
bumi ditengarai kondisinya semakin mengkhawatirkan, bumi kita telah mengalami
kerusakan yang cukup fenomenal. Fenomena pemanasan global, seperti pencairan es
di kutub, longsor, banjir, badai tropis, pencemaran air dan udara, merupakan
bukti bahwa bumi semakin rusak. Oleh
karenanya, khutbah kali ini, mengambil tema: Menjaga Kelestarian Bumi.
KHUTBAH PERTAMA
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hari-hari yang kita lalui, jum'at yang satu ke
jum'at lainnya, termasuk jum'at yang lalu ke jum'at hari ini merupakan waktu
yang tak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Sementara bumi yang kita tempati
adalah tempat paling indah di dunia ini. Dan tidak pernah ada duanya, sampai
ketika kita atas izin Allah dimasukkan ke dalam surga. Tempat terindah yang
keindahannya tidak bisa dibaca oleh lintasan pikiran dan imajinasi manusia.
Nikmat bumi adalah nikmat besar. Bayangkan saja
jika Allah SWT menarik lapisan atmosfir yang ada di atas bumi. Pastilah dalam
sekejap matahari akan membakar seluruh makhluk yang ada di atas bumi. Dan
kemudian bumi itu ikut terbakar karenanya. Atau bayangkan seandainya polusi
yang dilakukan manusia terus terjadi dalam skala yang berlipat ganda, lalu
lapisan karbondioksida menutup langit kita. Bumi tidak akan sehangat sekarang,
yang datang kemudian adalah dingin yang menghancurkan. Bahkan sebelum itu,
manusia akan lebih dulu mengalami kematian karena udara kotor yang sangat akut
telah dihirup dalam kesehariannya.
Maka nikmat bumi adalah nikmat yang harus kita
syukuri. Dan Islam, sebenarnya memiliki perangkat-perangkat untuk
mensyukurinya, sekaligus sebagai upaya menjaga bumi ini.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Hari ini kita telah mendapati kerusakan bumi
yang cukup hebat. Pada 28 Februari 2008 yang lalu, para peneliti menyebutkan
bahwa lapisan es di semenanjung Wilkins di Antartika, yang selama ini merupakan
lapisan es abadi sudah mulai mencair dengan kecepatan yang sangat mengejutkan.
Tentu saja berita ini mengejutkan dunia. Namun yang lebih penting, pencairan es
abadi ini, menurut penelitian itu, terjadi akibat pemanasan global.
Kekhawatiran yang kemudian muncul adalah tenggelamnya pulau-pulau kecil jika
kondisi ini dibiarkan.
Di negeri kita, bencana demi bencana juga
terjadi. Yang semula mungkin tidak pernah terpikirkan. Saat kemarau, maka yang
datang adalah kemarau panjang. Akibatnya, air sulit dicari, pertanian gagal
panen, dan sebagainya. Sementara jika hujan, seringkali yang dirasakan bukan
hujan sebagai rahmat,.
Tetapi hujan yang membawa banjir.
Kerusakan
laut juga luar biasa. Jumlah ikan menjadi berkurang cukup signifikan. Bahkan
beberapa jenis ikan sudah punah. Data terbaru menunjukkan di tingkat dunia 77
persen dari 441 spesies ikan sudah diambang kepunahan.
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SWT,
Allah SWT mengingatkan tentang fenomena semacam ini melalui firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar). (QS.
Ar-Rum : 41)
Melalui ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa
kerusakan bumi baik di darat maupun di laut, adalah karena ulah manusia.
Kesalahan manusia. Dan kerusakan itu tidak akan bisa dihentikan kecuali jika
manusia menyadari kesalahannya kemudian melakukan perbaikan.
Ketika menafsirkan ayat ini Imam Asy-Syaukani
mengatakan, "(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan menjelaskan bahwa perbuatan
syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam
semesta." Dalam ayat yang lain, Allah berfirman dalam bentuk nahy
(larangan) agar manusia tidak berbuat kerusakan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ
رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa
takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat
Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A'raf : 56)
Ibnu Qayyim mengatakan, "Mayoritas ahli
tafsir mengatakan, janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi dengan
melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan mengajak ketaatan kepada selain Allah
Azza wa Jalla setelah Allah Azza wa Jalla memperbaikinya dengan mengutus para
Rasul dan menerangkan syariat serta mengajak supaya taat kepada Allah Azza wa
Jalla. Karena sesungguhnya menyembah selain Allah, berdoa kepada selain-Nya dan
melakukan perbuatan syirik kepada-Nya adalah kerusakan paling besar di muka
bumi. Bahkan kerusakan bumi pada hakikatnya hanyalah disebabkan oleh syirik
kepada Allah dan menyalahi perintah-Nya."
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Jadi penyebab rusaknya bumi dan berbaga bencana yang menimpa itu bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama adalah penyebab tidak langsung, kedua penyebab langsung. Penyebab tidak langsung adalah seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim dan Imam Asy-Syaukani saat menjelaskan ayat-ayat tentang kerusakan bumi. Yaitu syirik kepada Allah dan maksiat kepada-Nya.
Mungkin kita akan bertanya: bagaimana mungkin syirik kepada Allah dan bermaksiat kepada-Nya, misalnya meninggalkan shalat dan melakukan zina, bisa membuat bumi menjadi rusak? Jawabannya adalah karena Allah SWT yang menciptakan bumi ini dan telah menggariskan hukumnya. Ia telah berjanji bahwa rezeki akan dibukakan kepada siapa yang beriman dan bertaqwa, sebaliknya, jika manusia durhaka kepada Allah SWT maka yang didatangkan adalah siksa diantaranya berupa bencana alam dan musibah demi musibah.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا
كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)
Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan,
"Diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak
terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Rasulullah SAW
pernah melewati kaum Tsamud, beliau melarang para sahabat melewati kampung tersebut
kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang mereka meminum airnya, menimba
sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa
untuk mengadon gandum. Karena maksiat kaum tsamud ini telah mempengaruhi air di
sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil
panen buah-buahan."
Di samping itu, bumi dan segenap unsur di
dalamnya, baik itu gunung, lautan, pepohonan dan binatang adalah makhluk yang
tunduk pada Allah. Mereka semua Islam, tunduk kepada Allah. Mereka juga menjadi
sayang jika manusia tunduk kepada Allah, namun jika manusia bermaksiat, mereka
benci. Maka jika seorang yang ahli maksiat meninggal, maka bumi, pepohonan dan
binatang terlepas dari kerusakan yang diakibatkan oleh maksiatnya.
وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
(Kematian) seorang hamba yang fajir (ahli maksiat) akan menjadikan manusia, negeri, pepohonan dan binatang terlepas (dari kerusakan akibat maksiatnya). (HR. Bukhari dan Muslim)
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Penyebab kedua adalah penyebab langsung. Yakni
aktifitas-aktifitas yang dampak atau akibatnya bisa langsung diamati dan
dibuktikan secara indrawi berefek pada kerusakan bumi. Sebenarnya kategori ini
juga masih masuk dalam ungkapan Ibnu Qayyim dan Imam Syaukani serta para
mufassirin yakni maksiat. Hanya saja ini adalah maksiat khusus yang merupakan
pelanggaran terhadap hubungan baik dengan alam (hablum minal alam).
Salah satu contohnya adalah menebang hutan secara
liar. Sehingga jumlah pepohonan semakin sedikit. Lahan hijau semakin sempit.
Akhirnya udara yang sudah sedemikian tercemar tidak bisa dibersihkan atau
dinetralisir. Sementara Islam justru memotivasi umatnya untuk gemar
menanam pohon. Tidak hanya kebaikan dunia yang akan diperolehnya, tetap juga
pahala di akhirat.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً
Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah. (HR. Bukhari)
Dalam hal ini, Imam Qurthubi bahkan menjelaskan
tentang hukum fardhu kifayah bagi kaum muslimin untuk menanam pohon, dan perlu
memerintahkan rakyatnya. "Bercocok tanam termasuk fardhu kifayah.
Pemerintah berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang
semakna dengan itu, termasuk menanam pohon." Betapa pentingnya
menanam pohon atau reboisasi ini, sampai-sampai disebutkan dalam satu hadits
agar seorang muslim tetap melanjutkan menanam pohon meskipun kiamat tiba,
sementara sudah ada benih yang siap ditanam.
إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ
فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى
يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ
Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah. (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Hadits ini di-shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)
Islam juga melarang pencemaran. Dalam hadits
disebutkan pencemaran air, seperti larangan kencing di air yang diam. Masa itu
memang belum ada pencemaran udara. Tetapi dari larangan ini bisa diqiyaskan
bahwa pencemaran udara juga dilarang. Demikianlah, penyebab
kerusakan itu harus kita hindari untuk menjaga bumi kita dan mendapatkan berkah
dari Allah SWT.
Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Bumi ini adalah amanah yang dibebankan kepada
manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka kewajiban kita adalah memeliharanya
agar tetap layak huni. Kewajiban kita adalah menjaga kelestarian dan
keseimbangan alam sehingga tidak justru semakin rusak.
Dengan bertauhid kepada Allah, keimanan yang
benar. Serta kita menjauhi segala maksiat, baik yang berdimensi hablum minallah,
hablum minannas, maupun hablum minal alam. Saat penduduk negeri ini beriman dan
bertaqwa, saat itulah keberkahan akan terasa, rezeki akan datang dari segenap
penjuru langit dan bumi.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا
كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A'raf : 96)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم وقل رب اغفر
وارحم و انت خير الراحمين
Comments
Post a Comment