MENELADANI KEHIDUPAN RASULULLAH MEMBAWA KEBAHAGIAAN
ubes nur islam
Abstraksi:
Rasulullah sangat menginginkan
umatnya memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Segala hal yang
mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka beliau paparkan. Bahkan
Rasulullah menyimpan doa terbaiknya untuk umatnya kelak di yaumul hisab agar
umatnya beroleh syafaat. Itulah bentuk-bentuk kasih sayang Rasulullah kepada
umatnya. Lalu bagaimana sikap kita terhadap beliau yang demikian luar biasa
kasih sayangnya kepada kita? Salah satu kewajiban kita terhadap beliau adalah
meneladaninya. Menjadikannya sebagai teladan sepanjang zaman kehidupan kita.
KHUTBAH PERTAMA
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah
yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Diantara karunia dan rahmat
besar yang dilimpahkan kepada kita sebagai umat akhir zaman adalah dilahirkannya
Muhammad SAW yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul.
Berdasarkan hadits
shahih, Rasulullah lahir pada hari Senin. Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury
di dalam Ar-Rakhiqul Makhtum berpendapat beliau lahir pada tanggal 9 Rabiul
Awal. Namun pendapat paling masyhur menyepakati beliau lahir pada tanggal 12
Rabiul Awal.
Kelahiran Rasulullah SAW
adalah rahmat yang sangat besar. Beliau, setelah diutus menjadi Nabi empat
puluh tahun setelah kelahirannya, dipuji oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang
menjelaskan karakter sang Nabi terakhir ini:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ
مَا عَنِتُّمْ
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh telah
datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (QS. At-Taubat : 128)
Dalam menjelaskan ayat
ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur'an mengatakan, "Allah
tidak mengatakan 'rasul dari kalian' tetapi mengatakan 'dari kaummu sendiri'.
Ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya dan lebih menunjukkan
ikatan yang mengaitkan mereka.
Karena beliau adalah
bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa
dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif."
Sedangkan Ibnu Katsir
dalam Tafsir Qur'anil Adzim berkata, "Allah SWT menyebutkan
limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orangy mukmin melalui
seorang rasul yang diutus oleh-Nya dari kalangan mereka sendiri, yakni dari
bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka."
Rasulullah merasakan
beratnya penderitaan dan kesulitan umatnya, bahkan lebih berat bagi Rasulullah
daripada apa yang dirasakan oleh umatnya sendiri. Maka setiap saat yang
diperjuangkan adalah umat, yang dibela adalah umat, yang dipikirkan menjelang
wafat adalah umat. "Ummatii... ummatii...", kata Rasulullah yang
selalu memikirkan umatnya menjelang wafatnya.
Rasulullah juga sangat
menginginkan umatnya memperoleh hidayah serta kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat. Maka segala hal yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada
umatnya telah beliau sampaikan. Segala hal yang mendekatkan ke surga dan
menjauhkan dari neraka beliau paparkan. Bahkan Rasulullah menyimpan doa
terbaiknya untuk umatnya kelak di yaumul hisab agar umatnya beroleh syafaat.
Itulah bentuk-bentuk kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.
Jamaah Jum’at yang
dirahmati Allah,
Lalu bagaimana sikap
kita terhadap beliau yang demikian luar biasa kasih sayangnya kepada kita?
Beliau yang namanya kita sebut dalam syahadat, kita bersaksi bahwa beliau
adalah Rasulullah lalu kita membacanya setiap kali shalat. Salah satu kewajiban kita terhadap
beliau adalah meneladaninya. Menjadikannya sebagai teladan sepanjang zaman.
لَقَدْ كَانَ
لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
لِمَنْ كَانَ
يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini menjadi pedoman
bagi kita bahwa manusia terbaik yang harus kita teladani adalah Rasulullah SAW.
Teladan yang seharusnya kita contoh perilakunya, kita contoh kata-katanya, kita
contoh ibadah dan akhlaknya.
Dalam ayat yang lain
Allah SWT menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah baru dikatakan benar jika
seseorang meneladani Rasulullah dan mengikuti sunnahnya.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: “Jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Meneladani Rasulullah
SAW itu artinya kita mengikuti sunnahnya dan tidak menyelisihinya. Kita
mentaatinya dan tidak menentang ajarannya. Rasulullah SAW bersabda,
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي
إِلَّا هَالِكٌ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا
فَعَلَيْكُمْ
بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
الْمَهْدِيِّينَ
عَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ
Sungguh aku telah
tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada
yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di
antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian
wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah
para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu
dengan gigi geraham. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Mereka yang bersegera
untuk mengikuti petunjuk Nabi yang diketahui melalui hadits-haditsnya akan
dijanjikan surga. Sementara mereka yang enggan mengikuti sunnah Nabi, enggan
mengikuti hadits Rasulullah dan lebih suka menyelisihinya akan menyesal di
akhirat nanti sebab ia menolak surga dan terseret ke neraka.
Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى
قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى
قَالَ مَنْ
أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku
masuk surga selain yang enggan,” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah,
lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku (mengikuti
aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari)
Semoga kita tergolong
umat Muhammad yang berusaha mempelajari sunnahnya, lalu mengikuti dan
mengamalkannya. Semoga kita tidak tergolong orang-orang yang menyelisihi dan
hadits-hadits Nabi, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlak dan muamalah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم وقل رب اغفر
وارحم و انت خير الراحمين
Comments
Post a Comment