HUJAN SEBAGAI RAHMAT
Abstraksi:
Musim hujan, dimana hujan
turun hampir setiap hari. Mengguyur semua tempat,
mulai lapanagan, jalan raya, halaman rumah, bahkan rumah jadi bocor. Tak hanya
itu, adanya hujan yang terus menerus mengguyur membuat banjir sehingga
mengganggu kenyamanan dan aktivitas kerja dan kehidupan sehari-hari. Kondisi
ini disikapi oleh sebagian orang, ada yang menyukai turunnya hujan ini, ada juga
yang tidak. Namun yang pasti mencela hujan adalah sebuah dosa, karena mencela
hujan identik dengan mencela Sang pencipta hujan.
KHUTBAH
PERTAMA
Kaum muslimin rahimani
wa rahimakumullah.
Marilah kita sama-sama bersungguh-sungguh
menjalankan taqwa kepada Allah swt. Dengan melaksanakan
sagala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya, semoga kita mendapat
kebahagiaan dan derajat yang mulia dari sisi Allah sebagai balasan atas
ketaqwaan itu. Sholawat dan salam kita persembahkan kaharibaan junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, yang telah
berjuang menegakkan kalimat Allah, menyeru sekalian ummat manusia agar berjalan
diatas petunjuk Allah ta’ala untuk keselamatan dunia dan akhirat.
Saat ini adalah musim hujan,
dimana hujan turun hampir setiap hari. Ada yang menyukai turunnya hujan ini,
ada juga yang tidak. Namun yang pasti mencela hujan adalah sebuah dosa, karena mencela
hujan identik dengan mencela Sang pencipta hujan.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Saya yakin, masih segar diingatan
Kita bagaimana susahnya hidup dalam kondisi kekeringan. Tanah berdebu, tanaman
menjadi kering, sumber-sumber air susut, dan cuaca pun terasa panas menyengat.
Namun kini, semuanya telah berubah, tanah menjadi becek, tanaman hijau nan
indah di mana-mana, genangan air dengan mudah Kita temui, dan suhu udara pun
terasa sejuk atau dingin. Tahukah Kita, apa penyebab terjadinya perubahan
tersebut? Semua itu terjadi berkat hujan yang Allah Ta’ala turunkan untuk hamba-hamba-Nya.
Wilayah Indonesia berada pada
posisi strategis, terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia,
diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa,
terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, terdapat
banyak selat dan teluk, menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan
iklim/cuaca.
Melalui mimbar ini, saya mengajak
Kita untuk merenungkan fungsi hujan secara utuh, sehingga Kita dapat mensikapi
hujan dengan baik. Dengan demikian, Kita semakin merasakan nikmatnya setiap
tetesan air yang menyirami negeri Kita. Dan selanjutnya hujan yang menyirami
negeri Kita senantiasa membawa berkah.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Fungsi
Pertama: Menghidupkan Tumbuhan
Sehebat apapun Kita dalam
memelihara tumbuhan, namun bila tanpa air, mustahil rasanya tumbuhan Kita bisa
hidup, terlebih membuahkan hasil. Karenanya, tidak dapat Kita pungkiri setelah
turunnya hujan, berbagai tumbuhan yang sebelumnya telah mati dan tertimbun
dalam perut bumi, sekejap menjadi hidup dan tumbuh dengan subur.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ
خَاشِعَةً
فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ
وَرَبَتْ
إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي
الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
“Dan
sebagian dari tkita-tkita (kekuasaan) ya bahwa kamu melihat bumi itu kering
tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan
subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang
mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fusshilat: 39).
Semasa kemarau, banyak dari
tumbuhan yang mati, dan hanya menyisakan biji-bijiannya yang tertanam jauh dalam
perut bumi. Dan bahkan banyak tumbuhan berbatang besar pun seakan mati,
sehingga tidak sehelai daun pun menghiasi dahan dan rantingnya. Ketika Kita
melihat kondisi semacam ini, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu silam,
mungkin Kita mengatakan bahwa tumbuh-tumbuhan itu telah mati, dan mungkin tidak
akan hidup kembali. Namun kini praduga Kita tersebut terbukti tidak benar.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Fungsi
Kedua: Sumber Minuman Makhluk Hidup
Semua makhluk yang hidup di muka
bumi ini terlebih yang bernyawa tidak mungkin dapat mempertahankan hidupnya
tanpa air minum. Karenanya air minum adalah kebutuhan primer setiap makhluk.
Karena demikian ini perihal makhluk hidup, maka ketika awal menciptakan bumi,
Allah Ta’ala menyiapkan
segalanya, air minum dan tumbuh-tumbuhan.
Secara fisik manusia bisa hidup
tanpa air alias menahan haus hingga maksimal 3-5 hari.Sedangkan hidup tanpa air
berbeda dengan hidup tanpa makanan. Jika udara sangat panas dan tidak ada air,
maka dehidrasi bisa terjadi dalam waktu satu jam saja. Karena itu seseorang
bisa saja meninggal dalam waktu hitungan jam jika tidak memiliki air dan berada
dalam kondisi yang panas. Namun, jika kondisi sekitarnya tidak terlalu panas
atau dingin, seseorang bisa bertahan tanpa air 3 sampai 5 hari.
Manusia sangat membutuhkan air
untuk bisa bertahan hidup, karena setiap hari orang kehilangan cairan melalui
keringat, urin, feses bahkan saat bernapas hingga 1,5 liter per hari. Air
sangat penting untuk organ-organ dalam tubuh agar bisa bekerja dengan baik.
Risiko utama orang hidup tanpa air
dan kondisi panas adalah suhu tubuh akan terus meningkat dan orang tersebut
bisa mengalami ‘heat stroke’. Tapi jika orang tersebut minum air maka
menurunkan suhu inti dan dapat mendinginkannya. Ini semua
demi menjaga kelangsungan hidup manusia secara khusus dan seluruh makhluk
bernyawa secara umum.
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ
دَحَاهَا {30}
أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءهَا
وَمَرْعَاهَا {31}
وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا
{32} مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu
dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. An Naziaat: 30-33)
Maha Suci Allah yang telah
menyiapkan segala yang mejadi kebutuhan makhluk-Nya, sebelum mereka memintanya.
Tidak diragukan fakta dan bukti kuat akan kemurahan Allah Ta’ala yang banyak dilupakan oleh manusia.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Fungsi
Ketiga: Ilustrasi Nyata Tentang Metode Turunnya Rezeki Kita
Dan diantara hikmah yang dapat
Kita petik dari siklus hujan, seperti yang telah Kita pelajari, adalah sebagai
ilustrasi nyata bahwa Allah menurunkan rezeki-Nya kepada Kita sedikit demi
sedikit. Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukan ini semua bukan karena Dia
pelit atau kawatir kehabisan stok rezeki, namun sepenuhnya demi menjaga
kemaslahatan Kita. Allah Ta’alameurunkan rezeki-Nya
kepada Kita sekonyong-konyong bagaikan turunnya air terjun, niscaya Kita celaka
dan binasa. Sebagaimana Kita pasti binasa bila Allah Subhanahu
wa Ta’alamenurunkan air hujan bagai turunnnya air terjun.
Karenanya nikmatilah hidup Kita,
karena sejatinya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyiapkan rezeki yang cukup
untuk Kita.
“Dan jika Allah melapangkan
rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka
bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan
rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. As
Syuura 27-28)
Cermatilah saudarakku, setelah
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Allah menurunkan
rezekinya secara bertahap, Allah Ta’ala menyebut hujan sebagai bukti dan
sekaligus ilustrasi nyata tentang turunnya rezeki. Karena Allah Subhanahu
wa Ta’ala Maha
Mengetahui lagi Maha Melihat kondisi hamba-hamba-Nya, maka Allah menurunkan
hujan dan demikian pula rezekinya secara bertahap, agar manusia tidak celaka.
Bagaimana rasanya bila Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan hujan bagaikan air terjun?
Atau Allah menyatukan jatah hujan untuk satu bulan lalu diturunkan pada
satu hari saja?
Demikian pula halnya dengan jatah
rezeki Kita. Kita pasti akan ditimpa celaka bila AllahSubhanahu wa Ta’ala menurunkan rezekinya tidak tepat
waktu. Kita pasti kesusahan bila AllahSubhanahu
wa Ta’ala menurunkan
seluruh jatah rezeki Kita sekali seumur hidup. Bila hal itu terjadi,
pasti Kita kesusahan mencari almari guna menyimpan jatah baju, dan
bingung mencari lumbung guna menyimpan jatah beras, dan kesulitan membangun
waduk guna menampung jatah air Kita.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Fungsi
Keempat: Hujan Adalah Tentara Allah
Akhir-akhir ini berbagai penjuru
negeri kita sering terjadi bencana dan petaka. Salah satu penyebab datangnya
bencana ialah air hujan. Fenomena yang sering terjadi di depan mata kita ini
adalah bukti nyata bahwa hujan yang sedia kala adalah wujud dari rahmat Allah,
namun bisa saja berubah menjadi tentara Allah yang membinasakan orang-orang
yang durhaka kepada-Nya. Dengan demikian, hujan bagaikan pisau bermata dua,
bisa menguntungkan dan bisa mencelakakan.
Di antara bukti sejarah akan
fungsi hujan yang kelima ini ialah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Bagaimana dengan hujan yang turun dari langit, Allah Subhanahu
wa Ta’ala membalas
keangkuhan kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam .
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ
السَّمَاء بِمَاء مُّنْهَمِرٍ {11}
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ
عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاء عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
“Maka Kami bukakan pintu-pintu
langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan
mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh
telah ditetapkan.” (QS. Al Qamar: 11-12)
Dan seperti yang Kita saksikan dan
mungkin juga pernah rasakan, bila hujan telah berubah menjadi tentara Allah Subhanahu
wa Ta’ala, maka tidak ada kekuatan yang dapat membendungnya.
وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ
وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ
يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا
وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ {42}
قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ
يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء
قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ
مِنْ أَمْرِ اللّهِ
إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ
بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
“Dan Nuh memanggil anaknya sedang
anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal)
bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir. Anaknya
menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari
air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah
selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang
antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang
ditenggelamkan.” (QS. Hud: 42-43)
Memahami fungsi hujan yang bagaikan
pisau bermata dua, dahulu Nabi e bila menyaksikan mendung beliau begitu kawatir
dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berkata,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ
بِكَ مِنْ شَرِّهَا
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu
dari kejelekan mendung ini.”
Dan bila hujan telah turun beliau
berdoa,
اللهُم صَيباً نَافعاً
“Ya Allah jadikanlah hujan ini
hujan yang bermanfaat.” (HR. Bukhari, Abu Daud, dan lainnya.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Saudaraku, fenomena yang sekarang
terjadi di negeri kita sudah sepantasnya mengetuk pintu hati kita. Betapa
negeri kita yang dahulu gemah ripah loh jinawi namun sekarang semua seakan
tinggal kenangan. Di musim kemarau, sawah-sawah puso dan banyak dari saudara
kita yang kekeringan sehingga kesulitan mendapatkan air, walau hanya sekedar
untuk minum. Namun di musim hujan kondisi ternyata tidak berubah, sawah-sawah
tetap saja banyak yang puso dan banyak dari saudara kita yang menderita, bukan
karena kekeringan namun karena kebanjiran, tanah longsor atau lainnya.
Mungkinkah ini sebagai bukti nyata
bahwa air hujan yang sedianya membawa keberkahan, kini tidak lagi membawanya,
namun sebaliknya membawa murka Allah Azza wa Jalla. Tentu semua ini terjadi
karena ulah tangan kita, kekufuran, kemunafikan, dan kemaksiatan yang kian hari
semakin meraja lela.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ
أَيْدِي النَّاسِ
لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)
Saat ini, kita sebagai penduduk
dunia tengah merasakan dampak dari ulah
tangan kita sendiri, kekeringan, banjir, dan tanah longsor, terjadi di
mana-mana. Walau demikian, kita tidak segera menyadari kesalahan, dan bahkan
terus mencari kambing hitam atas petaka yang menghimpit. Bukannya mengakui
bahwa kerusakan iman, akhlak, dan mentalitas kita adalah biang segalanya. Namun
kita malah mengkambing hitamkan alam, sehingga dengan hati yang dingin kita berkata, “Pemanasan global atau ungkapan
serupa.”
Kita dapat menangkap berbagai pelajaran yang telah Allah Ta’ala sisipkan pada berbagai kejadian di
sekitar kita niscaya petaka tidak akan mengimpit kehidupan kita. Rezeki Kita
hanya Kita yang dapat menikmatinya, dan tidak mungkin ada kekuatan yang dapat
merampasnya dari mulut Kita. Sebagaimana Kita pun tidak akan kuasa merampas
rezeki saudara Kita, atau mendatangkan rezeki yang bukan milik Kita.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Fungsi
Kelima: Hujan Adalah Ilustrasi Nyata Tentang Proses Kebangkitan Manusia Pada
Hari Kiamat
Tidakkah Kita mencermati berbagai
ayat yang telah saya ketengahkan ke hadapan Kita di atas? Berbagai ayat
yang berbicara tentang hujan senantiasa di akhiri dengan kata-kata “Seperti
itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati.” Misalnya pada ayat
berikut.
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ
الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ
سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء
فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن
كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan Dialah yang meniupkan
angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan);
hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah
yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan
orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al
A’araf: 57)
Tidakkah Kita amati, betapa
biji-bijian yang semasa musim kemarau telah tertanam dalam perut bumi. Sesaat
setelah turun hujan, semua bijian tersebut muncul ke muka bumi dan tumbuh
subur. Demikian pula yang akan Kita alami kelak pada hari kiamat.
Selama berabad-abad lamanya
manusia selalu tergantung pada air. Air bisa sangat bermanfaat bagi manusia
untuk menjaga kesehatan dan pengobatan namun air bisa juga mengakibatkan
bencana yang tak terperikan. Banjir dahsyat di berbagai daerah atau peristiwa
tsunami di Aceh, jelas sekali menggambarkan kekuatan alam yang mampu
meluluhlantakan kota dan penduduknya hanya dengan sekali libas.
Karena dahsyatnya kekuatan air,
manusia pun selayaknya memiliki ahlak terhadap air. Banyaknya pencemaran air di
Indonesia yang meliputi sungai, laut, dan air tanah jelas sekali
memperlihatkan betapa rendahnya ahlak manusia Indonesia terhadap air. Tidaklah
mengherankan jika air pulalah yang mengakibatkan banyak bencana di Indonesia.
Bencana-bencana tersebut tentulah bukan takdir Tuhan semata, melainkan takdir
tersebut terjadi akibat perbuatan manusia itu sendiri :
Yang demikian itu
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah
sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya. (Q.S Al Anfaal (8) : 35)
Sesungguhnya Allah tidak
berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat
zalim kepada diri mereka sendiri. (Q.S Yunus (10) : 44)
Dengan demikian ada sebuah
pertanyaan : benarkah air mampu merespon positif atau bahkan 'balas dendam'
kepada manusia? Pertanyaan diatas terjawab juga
akhirnya di abad modern ini. Melalui penelitian tentang air yang dilakukan
ilmuwan Jepang Dr.Masaru Emoto akhirnya dapat kita ketahui bahwa air pun
ternyata HIDUP dan dapat memberikan respon yang positif ataupun negatif terhadap
manusia. Penelitian ini patut diacungi jempol karena telah membuktikan ayat
dalam Al Quran :
"Dan kami ciptakan dari
air segala sesuatu yang hidup..." (Q.S Al Anbiya (21) :30).
Dr.Masaru Emoto berhasil
mendapatkan foto kristal air pertama di dunia bersama sahabatnya Kazuya
Ishibashi (seorang ilmuwan yang ahli dalam mikroskop). Foto kristal air ini
didapat dengan cara membekukan air pada suhu -25 derajat celcius dan difoto
dengan alat foto berkecepatan tinggi. Hasilnya adalah air ternyata mampu merespon
terhadap kata-kata, gambar serta musik baik secara positif ataupun negatif.
Semoga khutbah ini menggugah iman Kita dan
menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan Kita. Harapan saya, dengan
memahami berbagai fungsi hujan ini, kita dapat mensyukurinya dengan baik,
sehingga Allah senantiasa melimpat gandakan nikmat-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ
كُلِّ ذَنْبٍ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم وقل رب اغفر
وارحم و انت خير الراحمين
Comments
Post a Comment